Showing posts with label Surat Terbuka Untuk Jokowi. Show all posts
Showing posts with label Surat Terbuka Untuk Jokowi. Show all posts

Saturday, June 18, 2016

Surat Terbuka untuk Jokowi Tentang Pembatalan Perda Syariah

Surat Terbuka - Pemerintah melalui Kementerian Dalam Negeri telah mengumumkan pembatalan ribuan Peraturan Daerah yang dianggap menghambat pembangunan dan investasi. Setidaknya disebutkan ada 3.143 perda yang dibatalkan tersebut. 

Surat Terbuka Untuk Jokowi
Ibu Saeni
Hal tersebut tentu saja mengejutkan. Mengingat, keputusan tersebut diumumkan pemerintah tak lama setelah peristiwa pelarangan berjualan di siang hari di bulan Ramadhan oleh Satpol PP Kota Serang Banten terhadap lapak jualan Ibu Saeni (53). Di mana saat itu Ibu Saeni dianggap melanggar Perda Kota Banten yang melarang berjualan di siang hari saat bulan puasa.

Meskipun belum jelas, apakah Perda Dilarang Berjualan Di Bulan Ramadhan saat siang hari di Kota Serang Banten tersebut termasuk Perda yang akan dibatalkan oleh pemerintah. Yang pasti, di laman sosial media netizen banyak yang menyayangkan keputusan yang dinilai sembrono tersebut.

Tak kurang mantan Ketua MK Mahfud MD juga mengkritik pencabutan perda secara massal tersebut. Pasalnya, menurutnya yang paling berhak membatalkan peraturan itu adalah Mahkamah Agung melalui Judicial Review di Mahkamah Konstitusi. 

Surat Terbuka Untuk Jokowi
Surat Terbuka untuk Jokowi terkait Pencabutan Perda Syariah
Bahkan salah seorang Facebooker dengan akun Adi Abdillah, mengunggah Surat Terbuka untuk Jokowi untuk mengungkapkan keprihatinannya. Bahkan ia tak sungkan menggunakan kata "Assamualaikum" di awal dan akhir surat terbukanya yang berarti keburukan!

Surat Terbuka Untuk Jokowi


Assaamualaikum Pak Jokowi.

Pak Presiden, kenalkan, saya Adi Abdillah, rakyat sipil biasa pemerhati sosial dan agama.

Pak Jokowi, Anda selaku presiden RI, saya dengar telah mencabut beberapa perda di Indonesia. Yang saya ketahui juga, dari beberapa perda itu, kalau tdk keliru ada beberapa Perda yang dicabut dan perda itu tentang kewajiban memakai jilbab bagi pelajar. Padahal jilbab itulah cara Islam memuliakan wanita.

Cara Islam menjaga ...kehormatan wanita. 

Termasuk perda-perda lainnnya yang menurut isu yg beredar berbau Islam, Anda cabut dan berangus.

Surat Terbuka Untuk Jokowi
Maaf pak, jika memang itu benar adanya... saya bingung.. agama Bapak itu apa ya? Andai isu itu benar adanya.. kenapa Anda terlihat begitu benci dengan Islam? Sungguh Andai saja Anda dan seluruh bala tentara pasukan Anda hendak menghancurkan Islam, itu perbuatan sia-sia. Semakin umat Islam ditekan dan dihina, justru itu menjadi pelecut bagi umat Islam untuk bangun dari tidurnya.

Jika setelah kejadian ini, lalu akan muncul banyak orang-orang islam yang fundametalis dan fanatik, maka jangan salahkan mereka. Mereka ada karena adanya ketidakadilan dan diskriminasi. Mereka lahir karena tidak puas dengan keadaan. Mereka lahir karena tertindas.

Pak Jokowi, jika Anda dan jajaran Anda hendak membuat makar, sungguh Allah pun punya makar yang lebih hebat. Mana mungkin Anda akan dapat mengalahkan Allah? Anda cuma mimpi siang hari.

Malulah menjadi musuh-musuh Allah.

Kenapa sih kalian hobi sekali mengusik ketenangan umat Islam? Miras yang jelas-jelas merusak generasi bangsa, bahkan saat ini dilegalkan! Na’udzubillah..

Demi Allah.. kami hanya diperintah untuk mentaati Allah dan RosulNYA dan pemimpin yang taat pada Allah dan RosulNYA. Kami tidak akan taat dengan segala bentuk kemaksiyatan dan kemungkaran. Semoga Allah memberi hidayah kepada Anda dan kaum sekuler di sekeliling Anda.
Ingatlah bahwa suatu saat Islam akan menguasai kembali seluruh dunia ini, cepat atau lambat. Dan itu pasti terjadi. Sekarang tinggal pilih,,, apakah Anda akan berada di barisan Allah atau barisan musuh-musuh Allah.

Wassamualaikum...













Adi Abdillah, S.IP
Penulis dan Pemerhati Sosial Keagamaan
Published: By: Postman - 8:30 AM

Tuesday, January 12, 2016

Surat Terbuka Dokter Cantik untuk Presiden Jokowi

Surat terbuka seorang dokter cantik bernama Indah Puspitasari dari Bontang Kalimantan Timur untuk Presiden Jokowi, dipicu kekesalannya karena begitu sulitnya untuk mendapatkan BBM di daerahnya tersebut. Bahkan, BBM jenis Premium benar-benar menghilang dari pasaran. Yang ada hanya BBM jenis Pertamax.

Itu saja, ia mengaku harus mengantri berjam-jam mengorbankan jam kerjanya, sebagai seorang dokter di RS Badak LNG KSO-BP. Berikut kekesalannya yang tertuang dalam bentuk surat terbuka yang ia unggah ke laman Facebooknya :  

Surat Terbuka Dokter Cantik Indah Puspitasari

YSH Bapak Presiden Joko Widodo

Sebelumnya saya ucapkan selamat atas syukuran 7 bulanan anak Bapak. Doa tulus saya Semoga semuanya sehat hingga lahiran nanti..

Sebelumnya izinkan saya memperkenalkan diri saya. Nama saya Indah Puspitasari, saya seorang dokter umum sekaligus Ibu dari 2 anak jagoan. Saya bekerja di salah satu RS swasta di Kota Bontang. Salam kenal, Pak.

Bapak Jokowi,
Sebagai Presiden yang dekat dengan rakyat, saya mau Bapak tahu apa yang kami alami di daerah dan mungkin juga di daerah lain di Indonesia.

Sudah sejak 3 hari ini kota Bontang selalu kekurangan BBM. Baik itu premium yang katanya untuk rakyat kurang mampu,maupun jenis BBM lainnya spt Pertalite dan Pertamax. Akibat keadaan ini, SPBU yang berjumlah 5 lokasi, selalu terjadi antrian panjang. Bukan itu saja, seringnya malah stok BBM habis dengan alasan kuota.

Saya bukannya rakyat yang senang berdiri di atas penderitaan orang lain. Saya masih tahu diri dengan mengisi BBM kendaraan saya dengan pertalite ataupun pertamax. Namun kedua jenis BBM yang harganya lumayan mahal tersebut juga sering sulit kami dapatkan.

Kondisi ini membuat para pengguna Pertalite ataupun Pertamax beralih menggunakan Premium. Hal ini memperparah kondisi antrian Premium dan membuat Program Premium yang katanya hanya untuk masyarakat kurang mampu tidak berjalan. Dan ini bukan kesalahan rakyat, Pak.

Asal Bapak tahu, di Kota Bontang tidak banyak pilihan kendaraan umum, Pak. Mungkin di daerah seperti Pulau Jawa-Bali, ada Bussway, commuter, becak, delman, ojek, taxi, angkot, dan bus kota gampang ditemukan. Namun tidak dengan kota kami, Khas kota kecil. Sehingga satu-satunya kendaraan pilihan kami ya hanya kendaraan pribadi.

Surat Terbuka Dokter Cantik Indah Puspitasari

Kami cukup tahu diri,Pak. Dengan berusaha tidak menghambur-hamburkan BBM di mobil kami. Kami biasakan berangkat kerja dan mengantar anak sekolah (keduanya sekolah di SD yang sama) dengan 1 kendaraan. Hal ini kami lakukan demi mendukung program Pemerintah dan semoga juga dilakukan orang lain.

Tapi tindakan ini bikin saya hopeless karena tetap saja kota Bontang sering susah BBM. Seperti saat saya tulis surat terbuka ini,saya dengan sangat terpaksa meninggalkan jam kerja dan mengantre di satu-satunya SPBU yang masih menyediakan Pertamax sedangkan BBM jenis lain sudah ludes sejak semalam. Apalagi SPBU lain yang juga sudah tutup sejak kemarin dengan alasan kuota.

Huuuffhh... Kalimantan Timur, salah satu provinsi yang katanya 'terkaya' dan 'penyumbang devisa terbesar' ternyata mengalami kesulitan yang menurut saya mendasar sekali.

Mungkin di pulau Jawa-Bali, tidak pernah mengalami kelangkaan BBM ataupun mati listrik. Tetapi di sini maupun di Bagian Indonesia lain mati lampu adalah kawan sehari-hari. Hal ini menggelitik ingatan saya terhadap perkataan salah satu kawan saya "Indonesia itu dari Sabang sampai Merauke. Tapi, Indonesia Raya hanya ada di Jawa-Bali "

Apakah jargon ini benar, Pak?
Maka kalau ini tidak benar, bantulah hidup kami menjadi lebih tenang dan nyaman tinggal di luar pulau Jawa-Bali. Bukan dengan BLT ataupun sumbangan tetek bengek. Melainkan dengan melancarkan stok BBM dan listrik sehingga kami merasakan kenyamanan yang sama yang dirasakan masyarakat yang tinggal di Jawa-Bali.

Demikian Surat ini saya sampaikan, Pak. Mohon maaf apabila dalam penyampaian saya ada yang kurang berkenan. Semata-mata karena saya, maupun masyarakat lain juga sama-sama rakyat Indonesia. Punya hak dan kewajiban yang sama dengan rakyat di Jawa-Bali.
  
Surat Terbuka Dokter Cantik Indah Puspitasari

 

Published: By: Postman - 8:42 AM

Friday, June 5, 2015

Okky Agustina Kirim Surat Terbuka ke Jokowi

Surat Terbuka Okky Agustina untuk Presiden Jokowi
Kisruh pasca pembekuan status PSSI oleh Kemenpora Pimpinan Imam Nahrawi, telah membuat banyak aspek kehidupan terkait sepakbola nasional mati suri.

Apalagi kemudian, akibat intervensi pemerintah tersebut membuahkan sanksi yang dikeluarkan oleh FIFA, selaku induk olahraga Sepakbola dunia. Sankso tersebut menghukum aepakbola Indonesia tidak boleh berlaga di even internasional.

Serta kompetisi-kompetisi skala lokal di bawah naungan PSSI, tidak akan mendapatkan pengakuan dari FIFA.

Artis Okky Agustina yang juga istri dari pesepakbola Gunawan Dwi Cahyo, akhirnya membuka suara terkait dengan status  suaminya yang "menganggur" karena

tidak bisa bermain bola lagi.

Ia pun menuliskan curahan hatinya kepada Presiden Jokowi melalui surat terbuka yang ia kirimkan ke beberapa media.

Ibu empat anak itu juga memberikan perhatiannya kepada pencari nafkah di lingkaran pertandingan sepakbola, termasuk penjual kaos di emperan hingga juru parkir. Berikut surat terbukanya :

Surat Terbuka Okky Agustina untuk Presiden Jokowi

Bapak Presiden Republik Indonesia, Bapak Ir.Joko Widodo yth..

Sebelumnya saya minta maaf bila telah lancang menulis surat terbuka ini kepada bapak. Saya bukan siapa-siapa pak, saya hanyalah istri seorang pemain bola, salah satu dari istri seorang pemain bola yang saat ini sedang kehilangan pekerjaannya karena sanksi FIFA akibat pembekuan PSSI oleh Menpora.

Jujur saja pak, saya sebagai istri merasa sedih dengan adanya kejadian ini. Kami sedih melihat suami yang kehilangan harapan, kehilangan semangat, kehilangan mata pencahariannya.

Pak, mungkin bapak mendengar kalau sepakbola Indonesia tidak berprestasi tapi saya tetap bangga melihat suami saya bertanding membela Indonesia, mengenakan jersey tim nasional Indonesia dengan gambar Garuda didadanya di ajang Final Sea Games 2011 walaupun hanya mendapatkan medali perak dan saudara-saudara kami yang lain membela negara yang kami cintai ini di Final Piala AFF 2010 dan adik2 di U19.

Walaupun mungkin dianggap tidak berprestasi, tetapi dari sepakbola para suami bisa membiayai kehidupan kami, menyekolahkan anak-anak dan membeli susu untuk anak-anak.

Pak, mungkin bukan kami para istri saja yang berduka tapi banyak orang yang secara tidak langsung kehilangan pekerjaan dan penghasilan. Jika bapak pernah datang ke stadion dan menyaksikan pertandingan sepakbola, mungkin bapak pernah melihat banyak orang yang berjualan kaos, minuman, makanan pada saat pertandingan, tukang parkir.

Mereka juga mengais rezeki dari setiap pertandingan dan saat ini pertandingan dihentikan secara paksa, bagaimana mereka mendapat penghasilan untuk membiayai kehidupan keluarga mereka. Dan juga jutaan pencinta bola di Indonesia yang berduka karna tidak bisa menyaksikan pertandingan olahraga rakyat ini.

Pak Jokowi. Dulu bapak dipilih oleh hati nurani rakyat, semoga saat ini juga bapak bisa merasakan dengan hati nurani bapak bagaimana kesedihan kami, bagaimana perasaan kami para istri dan juga insan sepakbola Indonesia. 

Juga kerinduan kami dengan pertandingan sepakbola, euphoria dan kegembiraan para suporter.
Besar harapan saya dan juga keluarga lain untuk bisa menyaksikan suami kami bertanding dan membela klub dan juga bangsa Indonesia dan saya yakin bapak bisa menjadikan semuanya lebih baik dan mengembalikan pekerjaan mereka.

Sekali lagi saya minta maaf jika ada tulisan saya yang tidak berkenan, ini hanya ungkapan perasaan, kegundahan dan curahan hati saya dan juga para istri yang lain.

Terima kasih semoga bapak selalu diberikan kesehatan, rezeki dan keberkahan oleh Allah SWT. 

Wassalam (*)



Published: By: Postman - 12:05 AM

Monday, April 27, 2015

Surat Terbuka Anggun untuk Jokowi

Surat terbuka untuk Jokowi

Surat terbuka untuk Bapak Presiden Joko Widodo
Yang terhormat Bapak Presiden Joko Widodo,

Seperti yang mungkin bapak ketahui, sudah bertahun-tahun saya bermukim di Perancis. Sebagai orang Jawa dan orang Indonesia saya sangat bangga dengan budaya yang mengalir di darah saya dan saya merasa sangat beruntung bisa tinggal di negara yang sangat menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia, sebagai wanita dan juga artis, ini adalah sumber inspirasi yang sangat berharga.

Tentu saja saya sangat mengerti dampak negatif dari narkoba terutama di Indonesia dan saya sangat setuju juga selalu mendukung pemberantasan Narkoba di dunia. Tetapi saya juga yakin bahwa hukuman mati bukan satu solusi untuk menurunkan tingkat kriminalitas atau untuk menjaga kita dari semua kejahatan. Hukuman mati menurut saya adalah kegagalan sisi kemanusiaan juga hilangnya nilai nilai hukum keadilan. Hukuman mati bukanlah keadilan, apapun penyebabnya. Saya amat dan sangat yakin untuk ini.

Hukum yang diberikan terhadap Bapak Serge Atlaoui membangunkan emosi yang sangat dalam di Eropa, terutama di Perancis. Saya termasuk orang yang merasakan ini karena banyaknya sisi-sisi keruh yang akhirnya terlihat lebih jelas di dalam kasus pengadilan Bapak Serge Atlaoui, keraguan yang membuat keputusan hukuman mati menjadi tidak dimengerti karena banyaknya ketidaktentuan dalam kasus beliau. Selain itu saya pribadi yakin bahwa Bapak Serge Atlaoui tulus dan jujur.

Saya berada di Jakarta pada saat Bapak dipilih menjadi Presiden. Hati saya bahagia, berdebar keras dan merasa sangat bangga atas pilihan rakyat Indonesia. Pemilu Anda dilihat dan dipantau oleh dunia sebagai titik balik untuk Indonesia menjadi negara yang besar dan penuh kebajikan.

Di Eropa, Indonesia sekarang terkait oleh image negara yang membunuh. Hati saya berdebar lagi tapi kali ini karena kepedihan, saya tidak ingin wajah Indonesia tergores seperti ini dan dihakimi oleh dunia sedangkan Indonesia yang saya tahu dan impikan adalah negara yang toleran dan berikhwan.
Sekali lagi saya tidak mempertanyakan kedaulatan perhukuman di Indonesia untuk melawan Narkoba tetapi saya tidak bisa melihat seseorang yang mengaku tidak bersalah, akan dihukum mati, dan melihat kesedihan istri dan keluarganya.

Bapak Presiden, Anda mempunyai kekuasaan untuk membuat dunia kita ini lebih baik, dengan dikurangi kekerasan, tanpa tumpahnya darah, tanpa kebrutalan, seperti yang tertulis di Pancasila : Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

Sebagai putri Jawa, dengan hormat saya memanggil jiwa kemanusiaan Bapak yang selama ini menjadi karakteristik dan menggambarkan jalan hidup Bapak, saya memohon agar Bapak bisa memberi Grasi untuk Bapak Serge Atlaoui. Matur sewu sembah nuwun paringanipun kawigatosan mugi mugi Gusti Allah maringi rahmad berkah kesehatan kagem Bapak sekeluargo. Amin matur sembah nuwun.

Anggun


Published: By: Postman - 1:00 AM

Thursday, April 23, 2015

Surat Untuk Presiden Yang Mungkin Tak Akan Pernah Dibaca

Imam B Prasodjo, seorang sosiolog dan juga salah satu pendukung Jokowi saat Pilpres 2014 yang lalu, akhirnya membuat surat terbuka kepada orang yang pernah ia kagumi dulu. Kondisi kekinian yang semakin jelas menampakkan belangnya, membuatnya ikut menyuarakan keprihatinan.

Sosiolog yang juga sekretaris Tim Sembilan bentukan Jokowi ini, lalu membuat membuat surat terbuka kepada Jokowi, tepat sehari pasca dilantiknya Wakapolri Komjen Budi Gunawan oleh Kapolri baru Badroddin Haiti. Berikut uneg-unegnya :


Surat Terbuka Imam B Prasodjo

Jakarta, 22 April 2015
Kepada Yang Terhormat,

Presiden Joko Widodo,
Kami tak dapat berkata apa pun melihat begitu kasat mata arogansi kekuasaan diperagakan dan dibiarkan merajalela. Peristiwa yang akan terjadi hari ini adalah simbol kecongkakan luar biasa yang meruntuhkan kepercayaan paling dalam. Padahal, selama ini kepercayaan itu dicoba dibangun dan ditumbuhkan, dan rakyat pun menyambut dengan gegap gempita.

Inilah episode peperangan kebatilan melawan kejujuran dalam babak baru dalam bungkus politik hukum manipulatif yang menjadi landasan utama. Lihatlah. Ketika proses hukum formal dijalankan mengemas beragam kepentingan politik yang bekerja tanpa landasan kejujuran dan tanggung-jawab, tidakkah kepercayaan yang akan menjadi taruhannya?

Surat Terbuka untuk Jokowi

Kepercayaan itu pasti akan terkikis dan bahkan bisa lenyap sama sekali, tanpa bekas? Apakah dikira kepercayaan rakyat yang tumbuh dari batin yang paling dalam ini, dapat dicegah oleh kekuatan kekuatan argumen legalistik yang dibingkai berdasarkan manuver pasal demi pasal akrobat advokat dan hakim bayaran yang sungguh memuakkan? Sama sekali tidak!

Ketahuilah, semua itu tak akan mampu menahan menjalarnya keraguan dan ketidak-percayaan. Apakah artinya kekuasaan bila tak dilandasi kepercayaan rakyat banyak. Apakah artinya kebanggaan bila tak disangga pemihakan pada kejujuran dan tanggung-jawab?

Bapak Presiden,
Kalimat yang tersusun ini memang terlalu abstrak untuk dicerna bagi siapa saja yang tak memahami betapa kini gejolak hati jutaan rakyat begitu hebat terjadi. Kalimat ini sulit difahami bagi mereka yang tak mampu berempati pada tersendatnya denyut nadi orang-orang biasa yang selama ini menjadi saksi kemungkaran yang terjadi di negeri ini. Apakah dikira mereka diam tak memahami semua kepalsuan di balik semua kejadian ini?

Bapak Presiden,
Tentu Bapak melihat begitu banyak rakyat biasa semula sangat berharap bahwa negeri ini, kali ini, akan memulai langkah penuh arti untuk dimulainya perubahan nyata bagi kehidupan bangsa. Di tengah gelapnya awan oligarki yang menutup bumi Indonesia, banyak yang berharap bahwa kali ini, akan ada seberkas sinar terang yang mampu menembus awan, memberi harapan pada perbaikan. Itulah harapan perubahan kehidupan rakyat banyak yang jelata, lepas dari cengraman elit ketamakan dan kerakusan.

Siapa pengusung seberkas sinar pemberi harapan itu? Orang berharap ia adalah orang biasa, orang sederhana yang lugu, orang yang tak punya kepentingan apa apa, dan orang yang bukan berasal dari siapa siapa. Tetapi orang itu punya nyali karena ia dianggap akan berani melawan siapa saja yang melawan kepentingan orang biasa.

Ia berani karena justru ia lugu, ia tak memiliki kepentingan pribadi dan ia bahkan tak tertarik pada kekuasaan yang dipegangnya. Karena itu, orang itu diharapkan bisa melakukan apa pun, dengan resiko apa pun, karena bila ia terkena imbas dari langkah yang diambilnya, ia tak akan kehilangan apa-apa karena ia semula memang bukan siapa siapa.

Bapak Presiden,
Andalah orang biasa itu yang diharapkan mengawal seberkas sinar pembawa harapan itu. Begitu banyak rakyat menunggu langkah nyata itu yang kini harus dilakukan di saat situasi kritis. Jangan biarkan oligarki awan gelap menutup dan menghalangi sinar pembawa harapan dan kepercayaan yang semula tumbuh menyebar menyinari negeri ini.

Sekali lagi, saat inilah langkah nyata harus dilakukan Presiden dengan bekal mandat sebagian besar rakyat yang sudah dengan penuh keikhlasan diberikan.

Jangan kacaukan pemahaman bahwa pemberi mandat itu adalah segelintir tokoh elit penikmat kelanggengan kursi kekuasaan.

Kini jelas rakyat menunggu langkah Presiden menggunakan “keluguan” sebagai modal melangkah “cerdas” untuk memihak jutaan rakyat biasa, orang biasa, dan logika biasa. Jangan khianati kejujuran dengan melakukan pembiaran pada kezaliman. Pembiaran itu sama saja dengan pemihakan pada mereka para kenikmatan kekuasaan dan nafsu ketamakan.

Yakinlah dalam melangkah dengan landasan suara hati. Itulah landasan yang paling dapat dipercaya. Itulah nurani kebenaran yang pasti ada di dalam dada. Selamatkan Indonesia! Jangan biarkan orang orang penuh kepalsuan bertengger menempati jabatan yang dapat menghancurkan kepercayaan dan menghancurkan bangsa. (Republika)











Kami,
Suara Orang Tak Jelas
Yang Mencoba Bersuara….
Published: By: Postman - 6:56 AM

Tuesday, April 7, 2015

Kultwit Surat Terbuka untuk Jokowi dari Iwan Piliang

Jokowi, Saya ingin tanya apakah Shalat 5 waktu Anda masih jalan?


1. Kultwit sy #pemblokiransitusIslami sgr sy mulai di saat transit di Doha. Dan sy pastikan sy bukan gabung dg ISIS :)

2. Kegundahan sy akan rejim baru dipimpin Jokowi yg ikut sy gadang2 mencapai puncaknya.

3. Bangsa Indonesia adalah mayoritas umat Muslim penuh toleran, berupaya Rahmatan Lilalamiin

3. Karena itu kita cari adalah pemimpin yg paham agama, mengerti Pancasila. Sy dulu menganggap Jokowi sosok Muhlisin...

4. Sy dlm kultwit ini ingin memohon maaf ke isteri saya @sandraIP88 dulu mengingatkan sy jauh hari apa tak berdosa...

5. ..menggadang Jokowi. Kalimat isteri sy itu sy lawan. Sy katakan Jkw itu presiden direstui alam...

6. #pemblokiransitusIslami ini bentuk tak becusnya Jokowi jd presiden, implementasi tak becus memilih pembantu dan telah menyinggung hati...

7. ...menyinggung hati sy paling dalam sbg pribadi sbg umat. Saya tak bicara negara. Tapi Jokowi sdh keterlaluan bagi sy...

8. Entah disengaja atau tdk, Jokowi sbg presiden cuek saja sosok ADCnya  memakai ring back tone agama tertentu...

9. ...yg berisi dakwah, tanpa paham bahwa ia di ring satu Istana, seharusnya mengedepankan ada unsur budaya teposeliro

10. Saya ingatkan Jokowi sbg sosok yg pernah sy banggakan. Islam di Indonesia Islam yg rahmatan lilalamin. Bkn teroris.

11. Sy akui ada indikasi oknum militan dalam Islam. Ttp Anda Jokowi, yg sdh jd preiden, sy ingatkan jgn menjadi...

12. ...bagian INDIKASI skenario memojokkan Islam. Ingat Anda jd presiden didukung umat Muslim Indonesia yg besar!

13. Untuk Jokwi sbg Presiden Anda bisa mengatakan itu urusan di bawah Anda, boleh saja. Tapi Indonesia bangsa & negara...

14. ..pemimpinnya adalah presiden. Anda pemimpinnnya, bukan orang lain. Di mana Kejokowian yg pernah ada?

15. Mohon maaf Jokowi, Presiden, sy ingin bertanya apakah shalat lima waktu Anda kini  msh jalan?

16. Sy usai Isya barusan (di Doha, Qatar -red), berlinang airmata ketika teringat ikut melindungi Anda, Jkw, shalat di Raudah, Medinah...

17. ..sepekan sebelum Pilpres. Saya simak kala itu doa Anda khusuk. Ternyata kekusukan itu kini menghasilkan kebijakan lain...

18. Apa sih yg Anda cari, Jkw, jadi presiden? Di saat kampanye dulu sy buat kegiatan membersihkan toilet masjid...

19. ...dg harapan pembangunan itu agar Anda pahami bukan saja riil fisik, tetapi mebangun peradaban: Adab, akal, budi.

20. Kultwit ini bukan krn tak dapat Jatah. Tgl 12 Feb sy dipanggil ke istana, sy ditanya mau apa? Sy minta Antasari bebaskan...

21. Sy masih meminta sisi keinsanan dikedepankan. Jadi Anda semua Tweeps simak portofolio org nilai dg tulus..

22. Demikian. Pswt sy sdh mau boarding. Knp sy keras di kultwit ini, krn sy Umat Muslim, studi sy komunikasi massa.

23. Di atas idiologi ada akidah. Pemimpin, negarawan, benar membngun umat dg akidah. Demikian. Thx maf sy tak bs bls2.

Surat Terbuka













Narliswandi Piliang
(@iwanpiliang)
Published: By: Postman - 9:20 PM

Saturday, April 4, 2015

Surat Terbuka Untuk Presiden RI Joko Widodo dari Seorang Guru

Tak hanya para netizen dan selebtwit yang mulai angkat bicara. Seorang guru pun akhirnya ikut urun rembuk menyuarakan keprihatinannya terhadap perkembangan situasi bangsa - di bawah Jokowi, yang semakin tak ramah terhadap rakyat.

Surat dari mantan penggemar Jokowi ini, dimuat di blog pribadinya dan berisi curhatan tentang kondisi kekinian. Berikut selengkapnya Surat Terbuka untuk Jokowi dari seorang Guru

----

Kepada Yth,
Presiden Republik Indonesia
Bapak Joko Widodo

Salam hormat kami, semoga bapak Presiden senantiasa dalam keadaan sehat dan tetap memiliki semangat untuk memperbaiki bangsa ini menjadi lebih baik lagi. Saya juga mendoakan kepada bapak Presiden dan keluarga semoga diberi ketabahan dalam menghadapi berbagai kritikan pedas dari dari berbagai kalangan yang menginginkan negeri ini menjadi lebih baik, negeri yang mampu mensejahterakan rakyatnya bukan pejabatnya, negeri yang lebih memulaikan para pendidiknya (guru) dibandingkan memuliakan para kaum kapitalis dan sekuler yang telah menggerogoti kekayaan bangsa ini.

Pak Presiden yang terhormat, saya adalah seorang guru sekolah dasar di Kabupaten Bogor, letak yang tidak jauh dari ibu kota Jakarta, kabupaten yang pernah menjadi pemberitaan setiap hari karena presidennya tinggal di salah satu daerah tersebut yaitu Cikeas. Tapi mungkin itu tidak penting bagi Pak Presiden, juga surat ini mungkin juga tidak penting bagi bapak Presiden.
Surat Terbuka untuk Jokowi

Pak, Presiden saya pun tidak yakin surat ini akan sampai ke tangan bapak dan bisa dibaca, tapi paling tidak surat ini dibaca oleh rekan-rekan kami yang sama-sama berprofesi sebagai guru. Surat terbuka ini sengaja saya tulis, bukan karena ikut-ikutan karena banyaknya para praktisi, akademisi, pengamat dan orang-orang terkenal lain menulis surat terbuka.

Dari bahasa surat ini mungkin Pak Presiden, akan langsung menilai, ah, apaan sih gak penting bangat surat ini. Yak, betul Pak Presiden saya bukanlah sosok intelektual layaknya bapak yang pernah mengenyam pendidikan di Universitas terbaik di Indonesaia yaitu UGM, saya juga bukanlah guru yang punya prestasi sangat jauh dengan bapak yang pernah dinobatkan sebagai salah satu Wali Kota terbaik di dunia.

Pak Presiden yang saya hormati, sungguh  saya sebagai guru senantiasa di ajarkan untuk menghormati siapapun apalagi menghormati bapak sebagai Presiden. Namun saya hanya guru biasa yang tidak layak mendapatkan penghormatan dari siapaun apalagi dari seorang Presiden. Saya pun tidak layak untuk di puji-puji dan di banggakan layaknya bapak yang di puji dan dibanggakan oleh para pendukung bapak . Sayapun tidak bisa berbahasa yang santun sesantun bahasanya orang-orang solo seperti bapak dan para pendukungmu.

Pak Presiden yang saya banggakan, saya adalah guru yang setiap hari senantiasa menanamkan nilai-nilai kesantunan pada anak didik kami. Kami mendidik mereka agar berkata santun dan bersikap ramah. Karena itulah makna dari pendidikan kita, saya yakin bapak dan pak menteri pendidikan Anies Baswedan lebih memahami dari saya.

Pak Presiden sungguh hati saya tersayat dan merasa teriris-iris dengan ucapakan seorang gubenur yang menjadi sahabat baik bapak. Bukankah kah beliau adalah seorang pemimpin, bukankah dia adalah seorang intelektual yang pendidikannya lebih tinggi dari pada kami, bukankah beliau juga memiliki anak-anak yang masih sekolah atau kuliah. Begitu bangganya dan seolah tidak bersalah beliau mengeluarkan kata yang tidak layak, kata-kata yang harusnya ada di kebun binatang dan juga tempat-tempat yang menjijikan.

Pak Presiden, saya yakin bapak juga pernah sekolah, bapak pernah merasakan dan melihat bagaimana guru-guru bapak begitu luar biasa memperjuangkan agar anak-anak bangsa ini menjadi generasi berakhlak. Begitupun dengan saya pak presiden dan lebih dari 3 juta guru di Indonesia setiap hari menggelorakan semangat kepada anak-anak didiknya agar mereka menjadi pribadi yang berakhlak juga berilmu.

Sambil menitikan air mata saya terus menulis surat ini……………..

Pak Presiden yang terhormat saat menulis surat ini sayapun teringat pesan-pesan yang begitu menenangkan hati dari guru-guru saya, dari para ustadz dan dari guru-guru saya yang pernah berjuang mendidik saya.

Pak Presiden Jujur saya merasa tersontak dan kaget ketika membaca pemberitaan di media online tentang pemblokiran media-media Islam yang dianggap oleh  lembaga dan kementerian di bawah pimpinan bapak di vonis sebagai media yang meresahkan umat dan membawa faham-faham ISIS. Mohon maaf sekali Pak Presiden, bolehkah saya bertanya, apakah bapak beragama Islam, apakah bapak pernah membaca setiap hari situs-situs tersebut, apakah ba pernah bersilaturahim dengan para pimpinan media tersebut?

Saya yakin Pak Presiden, bapak sebagai umat muslim tidak ingin umat Islam terus tersudutkan dengan pemberitaan yang mendeskriditkan dan menjelek-jelekan Islam. Saya yakin dari bapak masih tersimpan rasa bangga terhadap ke-Islaman bapak dan saya yakin hati  Pak Presiden masih terbuka akan hidayah Allah SWT.

Pak Presiden yang saya hormati, setiap hari saya sebagai guru mengajarkan bagaimana menjaga etika dan berkomunikasi kepada murid-murid saya. Saya mengajarkan bagaimana jika ada sahabatmu yang bersalah, sebaiknya jangan engkau benci, tapi nasihatilah dan datangilah dia kemudian engkau beritahu kesalahannya serta mintalah memperbaikinya.

Pak Presiden, saya yakin guru bapak sekolah dulu juga mengajarkan yang sama, saat bapak membaca tulisan ini bapak mungkin akan langsung teringat pesan guru-guru bapak . Saya pun merasa yakin para lembaga dan kementerian yang bapak pimpin adalah orang-orangnya memiliki tingakat intelektual dan kesantunan yang luar biasa. Semoga saja bapak dan para menteri bapak masih ingat pesan-pesan mulia dari gurunya bagaimana seharusnya kita berkomunikasi dan beretika saat kita mengganggap orang lain salah.

Pak Presiden, sungguh saya bangga atas ketegasan bapak dan para menteri bapak dalam menindak kepada hal-hal yang akan merusak moral bangsa ini. Saya akan lebih bangga lagi jika bapak mampu memblokir seluruh konten porno di internet, memblokir situs-situs porno di Indonesia, menutup cafe-cafe dan tempat dugem serta kemaksiatan lain yang lebih berbahaya dari situs Islam yang telah bapak blokir.

Pak Presiden, Mari ambil bagian bersama kami untuk menyelematkan generasi akhlak bangsa Ini. Tahukah Pak Presiden, satu tahun ini saya sudah stop menonton TV, tahukah bapak kenapa itu saya lakukan?. Karena saya merasa tidak ada lagi tontonan di TV yang bisa menenangkah hati kami, tak ada cerita inspirasi yang bisa saya bagikan kepada murid-murid saya, sungguh TV telah menjadi racun yang sangat dahsyat bagi generasi bangsa ini.

Pak Presiden, menonton TV hanya membuat kami merasa makin resah dan gelisah dengan pemberitaan yang sama sekali tidak mendidik, tentu tak perlu kami urut satu persatu berita apa itu, karena ada lembaga KPI yang setiap hari mengawasinya.

Pak Presiden yang saya hormati, situs-situs Islam sesungguhnya menjadi pelipur lara bagi saya, menjadi penyejuk ditengah kegersangan hati kami, menjadi tempat kami belajar bagaimana menjadi pendidik sekaligus orang tua yang baik. Situs Islam telah memberi pencerahan kepada kami, bagaimana sesungguhnya berjihad dan beribadah di dalam Islam yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunah. Bungkah itu yang bapak ingingkan, ada media Islam yang mencerahkan umat.

Pak Presiden, tapi saya tak mau terlalu kecewa dan tidak mau berlalut lama-lama dalam kondisi seperti ini, karena saya yakin semua ini sudah menjadi takdir Allah. Sayapun merasa yakin bahwa Allah sudah memiliki hukuman bagi para pemimpin yang Dzolim terhadap rakyatnya.

Pak Presiden, saya sarankan bapak untuk bergabung di Facebook disana banyak sekali Group dan Komunitas Guru, ada ribuan keluhan yang setiap hari para guru tulis disana. Tentang berbagai hal, tentang ke kecewaan terhadap pemimpin, tentang status mereka yang tidak jelas, tentang gaji yang tak kunjung turun, tentap moral anak bangsa, tentang bejatnya para pemimpin negeri dan lain sebagainya.

Pak Presiden, tentu kami menyadari bahwa menjadi guru sudah menjadi pilihan kami, kami siap untuk hidup sederhana dengan tidak berlimpah uang dan harta. Mengabdi menjadi guru merupakan pilihan kami, karena kami meyakini harus ada yang mengambil peran ini, bukankah sesungguhnya gurulah penentu utama kemajuan bangsa ini.

Tapi pak Presiden kami juga merasakan begitu pahitnya kebijakan-kebijakan bapak yang telah bapak putuskan. Tentu bapak sangat tahu berapa tebalnya kantong kami, tentu bapak tahu kami harus berjuang dalam kesederhamnaan, tentu engkau tahu kami hanya bisa mengajarkan kepada anak-anak agar terbiasa makan dengan 4 sehat 5 sempurna. sementara kami makan dengan secukupnya dan itu kami syukuri.

Pak Presiden setiap hari kami harus membeli bensin, membayar listrik bulanan, membeli kebutuhan setiap hari dan membiayai anak-anak kami sekolah. Mohon maaf Pak Presiden rasanya hidup kami dulu tidak sepayah ini, kenapa setelah engkau pimpin rasanya hidup semakin susah.

Maafkan jika saya, kami para guru harus mengeluh seperti ini, karena saya yakin Pak Presiden tidak sudi atau mana mau bergabung bersama kami di facebook bersama jutaan guru dari berbagai ratusan group. Pak Presiden, bagaimana kami akan mengajar dengan tenang dan mengasyikan, jika pikiran kami harus terfokus, besok makan apa, anak istri di rumah sudah makan belum, kira-kira cari sampingan apa.

Pak Presiden, mohon maaf jika pada bagian ini bapak memukan jati diri kami yang sesungguhnya, yah inilah kami seorang guru yang juga manusia biasa, membutuhkan makanan terjangkau, listrik murah dan bensin yang hemat.

Pak Presiden yang saya hormati, mohon maaf jika kami harus mengatakan ini. Kami harus mendukung murid-murid kami yang dulu pernah kami didik di SD, pernah belajar bersama kami, pernah kami ajarkan etika bagaimana mengkritik dan bagaimana bersikap santun terhadap pimpinan.
Sungguh saya bangga mereka telah mengingatkan engkau dengan berbagai cara, mereka menulis kritikan lewat media, mereka berbicara di forum-forum resmi, dan sungguh saya bangga sekaligus kaget mereka yang masih jadi mahasiswa saja mampu mengeluarkan Raport merah untuk pak Presiden. Padahal kami saja yang guru tidak berani melakukannya.

Di akhir tulisan ini sungguh sangat terpaksa jika kami harus mendukung murid-murid kami yang dulu pernah kami didik di SD, harus menurunkan engkau pada bulan Mei nanti. Pak Presiden, sungguh hal ini tidak pernah kami ajarkan, ini menjadi suara hati mereka, karena mereka juga mungkin punya ayah dan ibu yang juga seorang guru yang telah mengalami perang batin yang sama dengan kami.
Pak Presiden saya ingin mengatakan sejujurnya surat ini saya tulis sendiri kurang lebih selama 3 Jam tapa pengaruh siapapun. saat menulis surat ini saya juga masih berada di kantor sekolah dan inilah pertama kalinya dalam hidup saya, saya menulis surat terbuka dan langsung di tunjukan kepada pemimpin tertinggi negeri ini.

Oia Pak Presiden hampir saya lupa, sungguh dulu bapak adalah orang yang saya banggakan, sehingga menggerakan hati saya untuk membeli buku biografi bapak , betapa terinspirasinya saya saat membaca kehebatkan bapak dalam buku biografi tersebut, karena bapak digambarkan mirip seperti seorang khalifah yang dalam kesuyian diam-diam membawa beras dalam mobil kemudian saat gelap malam bapak berikan kepada orang yang membutuhkan, apa yang bapak lakukan tanpa di ekspos media. Tapi kini entahlah…..bapak tentu tahu dari bahasa surat saya.

Jika suatu saat Pak Presiden ingin bertemu langsung dengan saya, silahkan lihat kontak saya pada pertama kali surat ini di posting di blog saya.

Sebagai seorang guru yang sering mengajarkan nilai-nilai akhlak, maka sayapun ingin mengucapkan mohon maaf yang sebesarnya-besarnya jika surat yang saya tulis ini menyinggung perasaan Pak Presiden, sungguh tidak ada niat lain selain saya ingin agar generasi bangsa ini yang setiap hari kami didik menjadi generasi terbaik.Amin…


Bogor, 04 April 2015
Dari Seorang Guru Sekolah Dasar  (SD) yang pernah memiliki rasa bangga dan terinspirasi  karena kehebatan yang diceritakan dalam buku Biografi Jokowi.




Published: By: Postman - 12:00 AM

Thursday, April 2, 2015

Surat Terbuka untuk Presiden Jokowi dari mantan Pendukung

Satu persatu,arus kekecewaan mencuat ke permukaan. Mereka yang dulu memberikan dukungan, baik sekedar satu suara maupun mati-matian dalam mempengaruhi orang lain agar ikut memilih Jokowi, kini seakan tersadar.

Realita politik yang semakin jauh dari janji-janji yang pernah terlontar saat kampanye, maupun hasil-hasil rapat secara marathon di dalam pihak timses. Sungguh jauh. Bak jauh api dari pemanggang. Maka bermunculanlah suara-suara kekecewaan terhadap Jokowi itu berupa ungkapan status sosial media atau bahkan surat terbuka di blog masing-masing..

Pak Presiden Jokowi yang baik hati,

Tentang kenaikan harga bahan bakar minyak, kami mungkin tidak pandai berhitung: Bagaimana sebenarnya harga minyak ditentukan? Bagaimana neraca perekonomian nasional diperlakukan? Atau pertimbangan apa yang dipakai sehingga satu-satunya pilihan untuk ‘menyelamatkan seluruh bangsa dan negara’ harus sama dan sebangun dengan menaikkan harga-harga?

Bagi kami, angka-angka selalu terdengar sebagai ilusi belaka, Pak. Setiap hari kami mendengar satuan ‘miliar’ atau ‘triliun’ disebutkan dalam berita-berita, tanpa pernah benar-benar melihatnya dalam bentuk yang sesungguhnya—apalagi menghitungnya satu per satu.

Surat Terbuka

Hidup kami sederhana, disambung lembaran-lembaran uang recehan. Ilmu hitung kami kelas rendahan: Berapa untuk makan sehari-hari, uang jajan anak sekolah, biaya transportasi, biaya listrik bulanan, dan kadang-kadang cicilan motor, dispenser atau DVD player.

Tak perlu kalkulator. Bila sedang beruntung, kami bisa punya sisa uang untuk jalan-jalan di akhir pekan. Bila sedang sulit, kami tidak kemana-mana, Pak: Kami mencari kebahagiaan gratisan di televisi—meski kadang-kadang justru dibuat pusing dengan berita-berita tentang pejabat-pejabat negara yang korupsi.

Tahukah Bapak, di televisi, juga koran-koran dan majalah: Kami seperti tak punya presiden! Kami seperti tak punya pemimpin! Negara ini terlanjur dikuasai para bandit dan bajingan tengik yang hanya tahu tentang memperkaya diri sendiri! Ah, mungkinkah Bapak tak sempat menonton TV atau membaca koran sehingga Bapak tak mengetahuinya? Tapi, kemana saja sih Bapak selama ini? Ngapain saja di istana? Mana janji-jani Bapak yang dulu terdengar indah dan gegap gempita?

Kami, rakyat biasa, sesekali butuh kabar gembira, Pak. Kadang-kadang kami berkhayal bahwa jangan-jangan kami ini sedang hidup dalam sinetron? Mungkinkah yang duduk di istana negara itu bukan Bapak—tapi kembaran Bapak yang menyamar atau tertukar? Kemana Bapak yang dulu penuh semangat untuk menyejahterakan rakyat? Lupakah Bapak pada janji-janji Bapak? Mungkinkah kepala Bapak terbentur batu dan lantas hilang ingatan?

Pak Presiden yang baik,

Harga BBM terlanjur naik… Sempat juga turun, tetapi kemudian naik lagi, dan naik lagi. Konon ia mengikuti mekanisme pasar, bergantung pada naik-turun harga minyak dunia. Tapi, Pak, di pasar-pasar becek yang kami tahu, ketika harga sudah terlanjur naik karena BBM naik, ia tak kenal kata turun lagi! Apakah Bapak juga mau menyerahkan nasib kami kepada mekanisme pasar dunia? Alamak!

Lihatlah pejabat-pejabat anak buah Bapak yang hanya bisa meminta kami bersabar dan mengerti! Dengan gagah dan seolah baik hati konon mereka akan memberi kami kompensasi: Membuat kami mengantre untuk mendapatkan uang bantuan agar kami tak merasa kesulitan.
Tapi, pikiran kami sederhana saja, Pak, benarkah Bapak suka melihat kami mengantre—panjang-mengular dari Sabang sampai Merauke? Kami tidak suka itu, Pak. Kami tak suka terlihat miskin, apalagi menjadi miskin. Kalau memang Bapak punya uang untuk dibagikan kepada kami, pakailah uang itu, kami rela meminjamkannya untuk menyelamatkan ‘perekonomian nasional’ yang konon tak kuasa menahan gertakan dollar Amerika dan gejolak harga minyak dunia.

Pak, sudahlah, tak perlu mengeluarkan kartu apa-apa lagi… Dompet kami sudah cukup tebal dengan kartu-kartu, tetapi sekaligus hanya memuat lembar-lembar rupiah yang makin hari makin tipis. Sudahlah tak perlu menyalahkan siapa-siapa, berdirilah untuk membela kepentingan dan nasib hidup kami.
Ada apa dengan Bapak ini? Tak perlu takut siapa-siapa, Pak! Bila Bapak disandra mafia, pejabat-pejabat yang bangsat, atau pengusaha-pengusaha yang menghisap rakyat, tolong beritahu kami: Siapa saja mereka? Kami akan bersatu untuk membantu Bapak melawan dan melenyapkan mereka. Tentu saja, semoga Bapak bukan salah satu bagian dari mereka!

Pak Presiden yang baik,

Dengarkanlah kami, berdirilah untuk kami, berbicaralah atas nama kami, belalah kami: Maka kami akan selalu ada, berdiri, bahkan berlari mengorbankan apa saja untuk membelamu. Berhentilah berdiri dan berbicara atas nama sejumlah pihak—membela kepentingan-kepentingan golongan atau partai. Berhentilah jadi bagian dari mereka yang ingin kami benci sampai mati. Jangan jadi penakut, Pak Presiden, jangan jadi pengecut!

Buanglah kalkulatormu, singkirkan tumpukan kertas di hadapanmu, lupakan bisikan-bisikan penjilat di sekelilingmu! Lalu dengarkanlah suara kami, tataplah mata kami: Tidak pernah ada satupun pemimpin di atas dunia yang sanggup bertahan dalam kekuasaannya jika ia terus-menerus menulikan dirinya dari suara-suara rakyatnya!

Pak Presiden,

Sekali lagi, tentang kenaikan harga minyak, barangkali kami memang tak pandai berhitung. Tapi, sungguh, kami tak perlu menghitung apapun untuk memutuskan mencintai atau membenci sesuatu; Termasuk mencintai atau membencimu!

-Dari seseorang yang dulu mendukungmu, yang kini merasa kecewa karena Bapak menyia-nyiakan dukungan itu!

Surat Terbuka












FAHD PAHDEPIE
PS: Saya pernah mengirimkan sebuah surat dengan nada yang sama kepada Presiden SBY, tahun 2012.
Published: By: Postman - 12:00 AM

Thursday, October 9, 2014

Surat Terbuka Indra J Piliang untuk Jokowi

Surat terbuka yang dibuat oleh Indra J Piliang ini, diperuntukkan kepada Presiden Joko Widodo. Termuat dengan judul Tentang Mimpi Generasi Usia 40-an tahun, Politisi Partai Golkar ini memberikan pandangan tentang langkah selanjutnya kepada Jokowi.

Surat terbuka yang ia buat di blog tersebut tertanggal Kamis (9/10/2014) ini, terbagi menjadi dua halaman. Isinya menitik-beratkan pada penyusunan menteri agar diangkat dari generasi 40 tahun. Ia beralasan, mereka yang saat ini berusia 40 tahun, merupakan generasi yang tumbuh dari kelebihan gizi pembangunan era Orde Baru. Namun secara intelektual, sosial dan politik terjadi pembatasan.

Berikut selengkapnya, surat terbuka dari Indra J Piliang untuk Presiden Jokowi :

Tentang Mimpi Generasi Usia 40-an Tahun

Pak Joko Widodo (Jokowi) yang saya hormati,

Izinkan saya mengirimkan surat terbuka ini kepada Bapak. Perlu saya sampaikan, walau menjadi bagian dari Dewan Pakar Jenggala Center dan Poros Indonesia Muda, saya jarang bertemu Bapak. Kita hanya pernah bertemu dalam empat kali kesempatan, yakni dalam acara Deklarasi Damai yang diadakan KPU, di Media Center Jokowi-JK, di atas kapal Phinisi Hati Buana Setia di pelabuhan Sunda Kelapa dan pembubaran Tim Jenggala Center. Saya tidak merasa berkepentingan untuk berada di dekat Bapak, mengingat luasnya area kampanye dan kesibukan Bapak.

Usai Pilpres, saya juga tidak merasa harus mendekati Bapak. Bahkan saya mengkritik keras rencana pembentukan Tim Transisi. Argumen-argumen saya sudah jelas, yakni Tim Transisi itu tidak dikenal dalam sistem suksesi yang ada di Indonesia yang mengenal fixed term (siklus lima tahunan, dalam bahasa Lemhannas). Saya justru melihat ada potensi kebuntuan politik, akibat jarak yang dimunculkan ke pelbagai pihak dengan keberadaan Tim Super itu.

Surat Terbuka

Walau akhirnya Bapak memutuskan meresmikan tim itu, tentu Bapak sudah memiliki parameter tersendiri untuk menilai sukses tidaknya. Saya justru melihat sebaliknya, akibat kesibukan Bapak dengan Tim Transisi itu, kerja-kerja politik pasca Pilpres menjadi terabaikan yang berbuah pada sentimen yang diputar tentang kekalahan demi kekalahan yang terjadi di DPR RI dan MPR RI.

Karena memang tidak memiliki jalur khusus, mengingat waktu yang makin terbatas, yakni tinggal sepuluh hari, saya memberanikan diri untuk menulis surat terbuka ini. Barangkali surat ini masih berguna suatu hari nanti sebagai catatan sejarah saja.

Pak Joko Widodo (Jokowi) yang saya muliakan

Saya sudah membaca sejumlah nama calon menteri dalam “Kabinet Trisakti” Joko Widodo (Jokowi) yang muncul ke permukaan. Siapapun nama itu tidaklah penting. Begitupula latar belakang politik mereka. Hanya saja, sebagai bagian dari bentuk kepedulian, saya perlu sampaikan tentang hal-hal sebagai berikut.

Pertama, sebutan profesional, baik murni ataupun partai politik, sebaiknya dihindari. Dalam literatur manapun, menteri adalah jabatan politik, bukan jabatan bagi kalangan profesional atau birokrasi murni. Menteri bisa dipecat kapan saja oleh presiden. Sebagai pembantu presiden, kedudukan menteri tidak lebih tinggi dari asisten rumah tangga. Apalagi kalau sampai sebutan sebagai profesional atau politisi itu salah dalam penempatan, akibat tidak mengetahui dengan detil riwayat seseorang.

Sebab, tidak semua orang berani menyantumkan seluruh riwayat hidupnya untuk kepentingan setingkat menteri. Bangsa ini memang kekurangan lembaga pencatat kehidupan seseorang, terutama sedikitnya penulis biografi ataupun auto biografi yang terverifikasi.

Kedua, dalam situasi pancaroba politik domestik, regional dan internasional sekarang, menteri haruslah memiliki kesadaran yang sama dan bahkan dididik dengan cara berpikir yang mirip. Kabinet yang berisi menteri dari bermacam latar belakang sah-sah saja, asalkan berasal dari generasi yang memiliki impian-impian dan tujuan-tujuan yang sudah tertancap dalam Visi Misi Jokowi-JK. Bukankah banyak mesin birokrasi di belakang mereka?

Kalau perlu, mereka berasal dari jaringan perkawanan yang sama dan lama, sehingga masing-masing mengetahui sifat, karakter, pemikiran, bahkan kekuatan dan – terutama – kelemahan menteri lain. Sudah bukan zamannya lagi seorang menteri hanya merasa bertanggungjawab kepada presiden seorang, sementara abai mengoreksi potensi kesalahan yang dilakukan rekannya yang lain.

Ketiga, menteri tidak lahir dari kisah Pilpres yang singkat. Jadi tidak ada yang disebut sebagai politik balas jasa. Alangkah celakanya bila seseorang atau sekelompok orang yang memiliki kemampuan dan teruji dalam masa yang panjang, tiba-tiba dikalahkan oleh calon-calon menteri titipan hanya karena arus kepemilikan kas kampanye.

Negara ini sudah terlalu dicoreng oleh kepentingan-kepentingan titipan semacam itu, sehingga berbuah dengan berhumbalangnya para menteri kabinet sebelumnya ke dalam tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi atau Kejaksaan. Saya merasa, Bapak perlu memikirkan soal ini dengan sangat tenang. Letak keberhasilan Bapak bukan hanya mampu melewati periode kepemimpinan Bapak selama lima tahun, melainkan juga membawa seluruh armada yang Bapak pimpin selamat sampai di tujuan.

Keempat, apabila Bapak memang menginginkan satu kabinet kerja yang solid, militan dan tanpa berharap berbagai sematan Bintang Tanda Jasa di dadanya, sebaiknya sejak awal bapak melibatkan kalangan terdekat dari orang tersebut. Rumah masa kecil dan keluarga sang calon menteri tentulah yang perlu Bapak lihat dan injak. Bapak perlu membangun empati sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan. Empati itu dimulai dari tingkat yang rendah, yakni dalam kehidupan berkeluarga dan bertetangga. Apalagi dengan mudah,

Bapak bisa langsung menampung keluh-kesah siapapun, termasuk dari keluarga atau tetangga calon orang kepercayaan Bapak. Dengan relawan yang setia di sekeliling Bapak, tentulah dengan mudah bisa menditeksi keberadaan orang-orang yang akan menjadi kepercayaan Bapak itu. Terus terang, saya tidak percaya dengan pelbagai sebutan nama kampus luar dan dalam negeri yang tercantum di dalam kurikulum seseorang. Ketidak-percayaan saya muncul akibat banyaknya orang-orang bergelar akademik yang pada gilirannya menjadi pasien lembaga-lembaga penegak hukum.

Kelima, siapapun yang Bapak pilih, tidak akan diingat generasi nanti. Ini adalah era pemerintahan Jokowi. Sudah Bapak ketahui betapa anak-anak sekolah sekarang sama sekali tidak hafal nama menteri. Jangankan anak-anak sekolah, saya sendiri juga tidak hafal nama-nama menteri yang ada dalam Kabinet Indonesia Bersatu Jilid Dua, apalah lagi yang Jilid Satu lima tahun yang lalu. Yang orang akan ingat adalah nama Bapak.

Yang orang juga akan lupakan adalah nama Bapak, apabila kurang berhasil melakukan perbaikan, janganlah dulu perubahan dan lompatan besar yang spektakuler. Nama-nama menteri akan hilang dalam satu generasi ke depan, sebagaimana generasi hari ini tak ingat lagi nama-nama menteri generasi lalu.

Pak Joko Widodo (Jokowi) yang jadi harapan rakyat pemilih
Bagian terpenting dari surat saya ada di sini. Saya berharap, Bapak mewujudkan mimpi satu generasi tentang Indonesia masa depan. Satu generasi yang rata-rata berusia 40 tahun, lahir dari pergerakan pemikiran dan aktivisme akhir tahun 1980-an dan era 1990-an. Inilah generasi bunga-berbunga yang tumbuh dari kelebihan gizi pembangunan era Orde Baru, tetapi terjepit dalam pembatasan-pembatasan secara intelektual , sosial dan politik.

Generasi yang sebetulnya apatis dan apolitis, tetapi terpaksa ikut dalam aktivisme kampus dan luar kampus untuk membuka pintu demokrasi yang tertutup rapat dan dijaga ormas pemuda berloreng, hansip, polisi dan tentara.

Generasi yang juga menikmati beragam gelontoran program kampus guna disiapkan sebagai agen-agen pembangunan, tetapi dilarang membaca buku-buku kritis dari kiri sampai ke kanan. Generasi yang sudah mulai berpikir tentang Tinggal Landas, terpukau dengan sejumlah program rekayasa industri dan teknologi, serta dididik langsung oleh sejumlah tokoh kritis yang mayoritas sudah tiada.

Generasi yang juga menyimak diskusi-diskusi kecil-kecilan dengan generasi lain yang sebagian sudah bisa keluar dari penjara Orde Lama dan Orde Baru, seperti Mochtar Lubis, Pramoedya Ananta Toer, Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, Adnan Buyung Nasution, WS Rendra, Ali Sadikin, Kemal Idris, dan nama-nama lainnya.

Apabila Bapak bisa menangkap alam pemikiran generasi yang berakhir dalam gerakan Mei 1998 ini, Bapak bisa tahu bahwa jauh lebih banyak yang menyingkir ke kehidupan profesional, birokrasi, kampus dan lembaga swadaya masyarakat, termasuk diplomat, bankir, polisi, dokter, guru, petani, pengusaha dan militer, ketimbang hadir di publik sebagai tokoh politik dan pemerintahan. Generasi inilah yang sekarang menjadi pucuk-pucuk pimpinan di tempat mereka masing-masing, mewarnai masyarakat, termasuk kelas bawah, kelas menengah dan kelas atas.

Merekalah yang sedang membentuk masa depan di tengah-tengah kehidupan, pada usia emas, usia kenabian, 40-an tahun. Mereka bekerja dalam lingkungan sendiri, kembali ke kehidupan akhir 80an dan era 90-an: apatis dan apolitis dengan yang namanya pergerakan kaum elite dan pemimpin yang demagog.

Terus terang, Pak Jokowi, nasionalisme kita lahir dari teks yang ditulis di koran-koran. Benedict Anderson menyebutnya sebagai printed nationalism. Apa artinya? Kalau mau melihat siapa yang disebut sebagai kaum nasionalis, tinggal membaca nama mereka di koran-koran, dalam bahasa sederhana. Dengan teknologi dan manajemen pencitraan dan konsultan yang bertumbuhan dewasa ini, printed nationalism sudah berubah menjadi printed Leviathan Thomas Hobbes dalam wujud penyelenggaraan negara. Negara telah berubah menjadi ajang pencitraan raksasa yang memakan otentisitas, idealitas dan sportivitas. Saya tahu, Bapak diserang tiap hari dengan koran, majalah, media online, social media, radio dan televisi yang dimiliki oleh lawan-lawan politik Bapak, sebagaimana juga Bapak dibela dengan metode yang sama.

Tetapi, Bapak akan gagal menangkap jiwa generasi yang saya sebut tadi, apabila Bapak mengandalkan pemberitaan untuk mencari nama mereka, apalagi dengan hanya mengandalkan kurir pengantar surat lamaran menjadi menteri. Mereka bukanlah bagian dari orang-orang yang mau menaruh nama di kancah pencitraan, apalagi demi ambisi politik atau dendam politik. Mereka menulis puluhan surat lamaran setelah lulus, tetapi jarang yang berbalas akibat multi-krisis yang dihadapi Indonesia di akhir abad 20. Tetapi, sebagai generasi berusia 40-an tahun, mereka ada di mana-mana secara mandiri dan otodidak dalam posisi yang tidak memerlukan ulur tangan orang lain lagi hanya untuk menghidupi keluarga masing-masing. Mereka ada dalam struktur dan kultur masyarakat itu sendiri dalam pelbagai ragam profesi yang mulai mapan.

Terus terang, banyak nama yang terus muncul dan dimunculkan untuk ada di sekitar Bapak, bahkan ketika yang melahirkan konsep Trisakti mereka tumbangkan dengan propaganda gerakan Angkatan 1966. Mereka ingin terus ada di lapisan atas, membentuk kader-kader biologis dan ideologis, agar terus ada dan berkuasa. Nama-nama yang dulu kami hadapi dalam gerakan 1990-an, terus muncul lagi dengan berbagai dandanan, titel ataupun gelar akademis. Bagaimana bisa energi murni pembaharuan dan perubahan bisa tumbuh subur, apabila fisik yang menggerakkannya sama dan saling bertolak-belakang? (Republika)

Indra J Piliang  
Published: By: Postman - 12:00 AM